Sunday, September 26, 2010

Sahabat Dalam Kafilah Dakwah

Assalamualaikum ikhwah dan akhawat sekalian,


Perjalanan dakwah ini memang panjang dan meletihkan.

1. Kadang-kadang, mungkin kita termengah-mengah kehabisan nafas untuk terus menjejakkan kaki hingga sampai ke tujuan.
2. Kadang-kadang, mungkin kita tersenggok-senggok merasa tidak kuat dan hampir tertinggal oleh derapan serta gerakan para kafilah dakwah ini.
3. Kadang-kadang, mungkin kita tersangkut dan terjatuh oleh aral yang melintang serta kesulitan yang dihadapi dalam perjalanan.

Tidak seorangpun di antara kita yang tidak pernah mengalami suasana perasaan seperti itu bahkan hampir semua kita, walau sekukuh manapun keperibadiannya, pasti akan mengalami situasi lemah dan merasa kekurangan tenaga.

Memang demikianlah sifat jiwa manusia sepertimana yang pernah disabdakan oleh Rasulullah saw dalam salah sebuah hadits sahih bahwa keimanan itu ada kalanya bertambah dan berkurang. Ia bertambah kerana amal soleh dan berkurang kerana kemaksiatan.

Tapi kita perlu ingat bahwa :
1. Selama kita berusaha untuk tetap berada dalam kafilah ini, insyaAllah, kelemahan dan kekurangan kita tidak akan mampu menjatuhkan kita.
2. Selama kita tetap komitmen bergerak dalam orbit komuniti jama’ah dakwah, insyaAllah kita akan menerima banyak keistimewaan dan barakah.
3. Selama kita tetap memelihara hubungan baik dengan kafilah dakwah, insyaAllah semua kelalaian dan penyimpangan kita kemungkinan besar akan dapat diluruskan dan kembali kepada jalan yang benar.


Kesimpulannya adalah :
Kita hanya akan jatuh terhina, tenggelam dan terseret oleh arus yang lain tatkala kita berada di luar arus atau orbit jama’ah dakwah.
Salah satu barakah hidup bersama orang-orang soleh adalah, mereka sentiasa mampu memberi nasihat dan pencerahan hati bagi orang yang duduk bersamanya.

Sabda Rasulullah saw :
“Sebaik-baik sahabat adalah, orang yang bila engkau melihatnya, menjadikan kamu mengingati Allah”.
Renungkanlah perkataan Rasulullah saw tersebut.

Hanya sekadar melihat seorang teman yang soleh akan memberi cahaya kesolehan yang berbeza dalam diri orang yang melihatnya.
Melihat orang lain yang lebih tinggi kadar ibadah, zuhud, jihad dan ilmunya, pasti akan memberi pengaruh yang besar dalam diri kita.
Merekalah orang yang akan mempengaruhi tahap kezuhudan, ibadah dan jihad kita.

Oleh kerana itu, para sahabat generasi pertama disebut sebagai generasi istimewa antara lain lantaran mereka sentiasa hidup bersama Rasululluh saw.
Di dalam kitab `Nuzhatul Fudhola’, ada seorang salaf mengatakan :
“Jika aku merasakan kekesatan hati, maka aku segera pergi dan melihat wajah Muhammad bin Wasi’”.
Abdullah bin Mubarak juga pernah mengatakan :
“Jika aku melihat wajah Fudhail bin Iyadh, aku biasanya menangis”.

Itulah salah satu prinsip yang dipegang oleh orang-orang soleh terdahulu. Bagi mereka, bertemu dengan saudaranya adalah bekalan kerohanian yang dapat membawa kepada kebangkitan ruhani mereka dan memang demikianlah yang berlaku.

Mari kita semak sebuah kisah yang disampaikan oleh Ibnul Qosim, salah seorang ulama fiqh di Mesir yang wafat pada tahun 191 H sebagaimana yang dinukilkan di dalam kitab `Tartibul Madarik’:
“Aku pernah mendatangi Imam Malik sebelum waktu fajar. Aku tanyakan dia tentang dua masalah, tiga masalah, empat masalah dan aku benar-benar melihatnya dalam suasana lapang.
Kemudian aku mendatanginya hampir setiap waktu sahur. Kadang-kadang kerana keletihan, mataku terasa mengantuk dan aku tertidur. Ketika Imam Malik keluar ke masjid, aku tidak mengetahuinya.
Kemudian aku dibangunkan oleh pembantunya sambil mengatakan:
“Gurumu tidak tertidur seperti kamu, padahal ketika ini usianya telah mencapai 49 tahun. Setahuku, ia hampir tidak solat subuh melainkan dengan wudhu’ yang dipakai untuk solat Isya’.”

Apakah yang terlintas dan terdetik di dalam jiwa kita tatkala mendengar kisah di atas?
Subhanallah!, riwayat-riwayat seperti itu banyak disampaikan dalam atsar sehingga sulit bagi kita untuk tidak menerimanya sebagai suatu kebenaran.
Disebutkan di sana, wudhu’ Imam Malik tidak batal sepanjang malam dalam rentang waktu hampir separuh abad di mana keadaan seperti ini biasa dilakukan pada malam-malam musim panas.
Maknanya, Imam Malik rela untuk menyedikitkan makan dan minum sepanjang hari sehingga ia mampu memelihara wudhu’nya.

Tercatat juga di dalam kitab `Nuzhatul Fudhola’ bahwa salah seorang salafus soleh pernah bercerita :
“Aku pernah bangun pada waktu sahur untuk mempelajari Al Qur’an kepada Ibnu Akhram, seorang ulama’ Damsyik. Tapi ternyata kehadiranku telah didahului oleh sekitar 30 orang dan aku belum memperolehi giliran sampai datang waktu asar.”
Kebiasaan pada waktu itu, setiap orang diberi giliran untuk mempelajari Al Qur’an sekitar 2 halaman.
Lihatlah terhadap kesabarannya yang luar biasa untuk menanti giliran membaca 2 halaman Al Qur’an dari sebelum fajar hingga waktu asar. Yang lebih menghairankan lagi, kedatangannya sebelum fajar telah didahului oleh kurang lebih 30 orang.
Membaca dan menelaah tatacara kehidupan orang-orang soleh juga mampu membangkitkan semangat baru dalam diri kita. Boleh dikatakan, membaca dan menelaah kehidupan mereka hampir sama dengan kita menziarahi dan berhadapan dengan mereka sehingga kitapun menerima barakah dari Allah kerananya.

Oleh kerana itulah, Imam Ibnul Jauzi pernah mengatakan di dalam kitab `Qimmatuz zaman `indal ulama” :
“Aku berlindung kepada Allah dari tatacara kehidupan orang yang tidak mempunyai cita-cita tinggi hingga dapat diteladani oleh orang lain yang tidak mempunyai sikap wara’ yang boleh ditiru oleh orang yang ingin berzuhud.
Demi Allah, hendaklah kamu mencermati perilaku suatu kaum, mendalami sifat dan berita tentang mereka kerana dengan memperbanyakkan meneliti kitab-kitab mereka adalah sama dengan melihat mereka.
Bila engkau mengatakan telah mendalami 20,000 jilid buku, bererti engkau telah melihat mereka melalui kajian engkau terhadap tingkatan semangat mereka, kepandaian mereka, ibadah mereka, keistimewaan ilmu yang tidak pernah diketahui oleh orang yang membacanya……..”

Maka, marilah kita sering mengunjungi saudara kita di atas jalan ini. Jangan jauhkan mereka dari hati kita.
Selalulah berkunjung, bertatap muka dan memandang wajah mereka. Di sanalah kita akan menemui keberkatan hidup berjama’ah yang dapat memberi bekalan bagi jiwa agar kita dapat meneruskan perjalanan ini hingga sampai ke tujuan dan matlamat yang terakhir iaitu ridha Allah dan syurgaNya.

Ya Allah, kekalkanlah kaki-kaki kami di atas jalan dakwah yang mulia ini walaupun perjalanannya panjang dan meletihkan serta dipenuhi oleh segala onak dan duri. Jadikanlah sahabat-sahabat seperjalanan kami sebagai teman setia yang mampu memberi kekuatan tenaga dan pencerahan hati kepada kami sehingga kami menemuiMu dalam keadaan mendapat keridhaanMu serta syurga yang dijanjikan.
Ameen Ya Rabbal Alameen


Wan Ahmad Sanadi Wan Ali (WAS)

0 comments: